Sekelumit Pengantar dari Soegeng Toekio:
Menjelang hangat pesta demokrasi di negeri ini, ada sekelompok kawula muda dan kampus kota Solo menggelar Pameran Keris dan Tosan Aji dalam rangka kegiatan dua tahunan Kerisfest yang ke 5 bertajuk NGRENGGA-NGREPTA. Sekian karya ditampilkan pada kesempatan ini. Nampak masih kukuh nilai peradatan yang berkelanjutan dari kerja budaya masa lampau. Generasi baheula atau dipahami sebagai nenek moyang, memang telah meninggalkan warisan beragam yang melekat pada budaya serta sejarah. Demikian menakjubkan warisan itu, namun sering dikenali adalah kosakarya artefak yang tersebar di kawasan nusantara. Tentu ini sebuah anugerah akbar, bahwa nenek moyang dari komunitas kaum tani ini telah melimpahkan kinerjanya berupa warisan budaya yang layak untuk dilestarikan. Tidak hanya sebatas itu, kosakarya tersebut juga menyandang nilai ADHI serta ranah Uniqum selain memancarkan gugahan (asosiasi) bagi pihak lain untuk bergrahita terkait dengan estetika timur atau rasa dalam. Sekian abad telah dilalui dan tersebar di beberapa wilayah seperti; Sumatera, Kalimantan, Bali, dan terlebih di Jawa dan Madura.

Kiprah perjalanan panjang telah dilalui dan melalui masa untaian pengalaman bagi pelakunya sehingga hasil kerja budaya yang demikian itu senantiasa citarasa kebanggaan. Bahwa dari wujud keunikannya, KERIS (=Tosan Aji) pada dasarnya adalah hasil ketekunan, kecermatan, dan kemampuan menguasai teknologi metalurgi. Tak hanya sebatas memijarkan lalu menempa logam saja. Tetapi ada tuntutan kerja lain untuk menghasilkan bilah dan menghaluskannya sehingga mencapai bentuk yang diharapkan. Cara kerja sistem itu pula diwariskan sebagai wujud kerja budaya yang senantiasa ditularkan oleh para empu sebagai pelaku budaya masa lalu. Seperti kosakata yang menyebutkan NUNGGAK SEMI, bahwa ada keberlangsungan yang tak lepas dari norma atau konvensi sebagai pemandu agar hasilnya laras dengan pencitraan budaya. Hasil ini menjadi rangkaian proses mekarya, utamanya berkaitan dengan rekayasa logam sebagai media utama mekarya keris. Tidak hanya bilahnya saja, namun lengkapan (aksesoris) lainnya pun diyasakan penuh dengan kecermatan.

Menjelang hangat pesta demokrasi di negeri ini, ada sekelompok kawula muda dan kampus kota Solo menggelar Pameran Keris dan Tosan Aji dalam rangka kegiatan dua tahunan Kerisfest yang ke 5 bertajuk NGRENGGA-NGREPTA. Sekian karya ditampilkan pada kesempatan ini. Nampak masih kukuh nilai peradatan yang berkelanjutan dari kerja budaya masa lampau. Generasi baheula atau dipahami sebagai nenek moyang, memang telah meninggalkan warisan beragam yang melekat pada budaya serta sejarah. Demikian menakjubkan warisan itu, namun sering dikenali adalah kosakarya artefak yang tersebar di kawasan nusantara. Tentu ini sebuah anugerah akbar, bahwa nenek moyang dari komunitas kaum tani ini telah melimpahkan kinerjanya berupa warisan budaya yang layak untuk dilestarikan. Tidak hanya sebatas itu, kosakarya tersebut juga menyandang nilai ADHI serta ranah Uniqum selain memancarkan gugahan (asosiasi) bagi pihak lain untuk bergrahita terkait dengan estetika timur atau rasa dalam.
Perlu digarisbawahi bahwa teknologi pamor pada keris merupakan fakta empirik dari kemampuan menguasai teknologi metalurgi yang dipadukan dengan seni. Ada sekian ratus bilah keris tersebar berjenis pamor dengan nama dan raut berbeda. Sayangnya dari keunikan menciptakan pamor ini masih berkutat pada konvensi, belum menembus ke matra kebaruan pada performanya. Sebenarnya sangatlah terbuka kemungkinan berinovasi sehingga perupaan serta fungsinya akan bergeser tanpa mengikis nilai dan uniqumnya.

Melalui Insitut Seni Rupa Indonesia Surakarta yang cukup konsisten terhadap pelurian budaya nusantara membuka peluang bagi kaum muda untuk kiprah menegakkan dan mengembangkan budaya. Sangat menjadi dambaan bahwa kinerja kawula akan menggemakan budaya bangsa pada kancah percaturan global. Hanya kekuatan tekad kaum muda yang akan membedah dan mengisi peluang masa depan. Oleh karena itu, sudah masanya bila kegiatan serupa ini diagendakan untuk mengisi masa berikutnya. Keris sebagai culture heritage serta diakui menjadi warisan budaya dunia, tak ada lagi alasan untuk abai atau mencibirkannya.


