Origin Keris
Keris berawal dari belati tikam yang berkembang di Pulau Jawa pada masa Hindu-Buddha dan kemudian mengalami berbagai perubahan bentuk serta teknik pembuatan pada dinasti-dinasti berikutnya. Ketika Kerajaan Majapahit memperluas pengaruhnya ke seluruh Nusantara, keris turut menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara dan berkembang sesuai karakter budaya, daerah, serta zamannya. Perbedaan ciri berdasarkan asal daerah dan periode pembuatannya dikenal dalam dunia perkerisan sebagai tangguh, yaitu sistem penggolongan keris yang berbeda dari makna umum kata tangguh yang berarti kuat atau kokoh. Setelah masa Majapahit, muncul berbagai kerajaan penerus dan kekuasaan kolonial yang turut memengaruhi perkembangan keris, sehingga senjata ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan diri, tetapi juga sebagai simbol legitimasi politik dan kekuasaan.
Secara etimologis, nama keris diduga berasal dari kata kres yang tercatat dalam Prasasti Karangtengah, sebuah prasasti perunggu dari Jawa yang menyebut istilah patuk dan kres. Kata tersebut diyakini berasal dari onomatope bunyi yang dihasilkan saat senjata menusuk atau mengiris, yang kemudian berkembang menjadi istilah keris. Sebagai senjata tikam khas Asia Tenggara dengan pusat persebaran di Nusantara, keris memiliki keterkaitan erat dengan budaya masyarakat Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, Semenanjung Malaya, Filipina, hingga Thailand. Keragaman budaya dan sejarah di wilayah-wilayah tersebut melahirkan berbagai bentuk, fungsi, serta makna keris yang berbeda sesuai konteks tempat dan zamannya.
Beberapa Empu Pembuat Keris Terkenal
Hingga kini, keris tetap ada dan terus diproduksi oleh pengrajin keris yang sering disebut sebagai Empu. Beberapa keris benar-benar memiliki nilai pusaka, sementara yang lainnya hanya berfungsi sebagai hiasan. Untuk keris yang berstatus pusaka, biasanya dibuat oleh empu yang memiliki “keahlian” khusus. Berikut ini adalah beberapa Empu terkenal yang telah menciptakan keris dengan daya tarik yang luar biasa.
Empu Gandring
Empu Gandring adalah pengrajin keris yang terkenal pada era kerajaan kuno dan namanya tercantum dalam Kitab Pararaton. Ia berasal dari desa Lulumbang atau Palumbangan yang terletak di Kecamatan Doko, Blitar, serta merupakan teman Bango Samparan, yang juga merupakan ayah angkat Ken Arok.
Dalam Kitab Pararaton diceritakan bahwa Ken Arok suatu waktu meminta pembuatan keris dengan batas waktu dua belas bulan. Namun, Empu Gandring mampu menyelesaikan keris tersebut sebelum waktu yang ditentukan berakhir. Anehnya, Ken Arok malah melukai Empu Gandring dengan keris yang baru saja dibuat. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Empu Gandring melontarkan kutukan bahwa keturunan Ken Arok yang ketujuh akan meninggal di tangan keris hasil karyanya. Dan kutukan itu menjadi kenyataan. Keris yang diciptakan oleh Empu Gandring konon memiliki kekuatan supranatural serta daya magis yang sangat tinggi.
Empu Sungkowo Harumbrodjo
Empu Sungkowo adalah keturunan ke-17 dari Empu Supodriyo, seorang pembuat keris yang beroperasi di era Majapahit pada abad ke-14. Ia dikenal sebagai pengrajin keris ternama di Yogyakarta. Beberapa keris yang ia ciptakan dimiliki oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Menjadi empu bukanlah sekadar soal darah atau keturunan. Sungkowo mempelajari seni pembuatan keris untuk mendapatkan gelar empu mulai tahun 1995. Sebelum berkarir sebagai pembuat keris, dia pernah bekerja di tempat pembuatan batik. Workshop kerisnya berada di Dusun Gatak, di Sleman.
Dahulu, ia sering membantu ayahnya, Empu Djeno, dalam proses pembuatan keris. Pada waktu itu, dia berperan sebagai panjak atau asisten empu. Tugasnya mencakup menempa logam yang dipanaskan, mengelola api, serta membantu dalam pengikiran keris. Ia menerima banyak pelajaran berharga selama menjabat sebagai panjak. Setelah kepergian Empu Djeno, ia melanjutkan tradisi keluarganya dengan menciptakan berbagai keris.
Empu Sungkowo memproduksi keris dengan metode tradisional, melibatkan 53 langkah, dan memerlukan waktu antara 30 hingga 40 hari hanya untuk membuat satu keris. Tentu saja, sebelum proses membuat keris, Empu Sungkowo menjalani sejumlah pantangan, berpuasa serta menjalankan ritual-ritual tertentu.
Sumber: https://joglosemarnews.com/2023/11/ini-beberapa-empu-keris-yang-namanya-legendaris
